Jika Anak Mencandu Televisi PENELITIAN mengenai dampak menonton TV bagi anak di usia dini kembali dipaparkan. Perkembangan dan pertumbuhan anak baik fisik maupun psikologis di sekolah akan terganggu. Menurut studi terbaru, menonton televisi pada usia 2,5 tahun misalnya, ternyata dapat meningkatkan risiko anak mendapatkan beberapa masalah di sekolah dan kesehatan di kemudian hari. Intinya, pengaruh televisi di usia dini berdampak negatif dan akan berlangsung lama. ‘’Anda akan mendapatkan anak yang hanya duduk menatap layar, memiliki indeks massa tubuh (body mass index/BMI) lebih tinggi, tidak makan dengan benar, dan tidak melakukan aktivitas sosial dan akademis di sekolah dengan baik di kelas 5 SD,” kata penulis studi Linda Pagani PhD, profesor psikologi pendidikan di Universite de Montreal dan seorang peneliti di Sainte-Justine Research Center University Hospital di Montreal, Kanada seperti dikutip laman WebMD. Sebenarnya telah banyak studi lain yang terfokus pada dampak menonton televisi pada anak-anak, yang menghubungkan banyaknya waktu menonton dengan buruknya nilai sekolah dan kelebihan berat badan. Namun, Pagani mengklaim penelitian yang baru dijalankannya lebih komprehensif itu terlihat dari berbagai sisi efek yang ditelitinya, bukan hanya satu. Selain itu, studi ini terus diperbarui hingga anak berusia 10 tahun, atau setara kelas 5 SD. Menurut dia, mengevaluasi dampak dari menonton televisi sangatlah penting bagi anak, terutama di awal kehidupannya. ”Dari anak lahir hingga usia 5 tahun, kita memiliki otak besar yang terus berkembang. Kita berbicara secara eksponensial,” tutur Pagani. Menurut penelitian ini, menyaksikan tayangan televisi di usia dini tidak bakal memberikan ”kenikmatan” apa pun bagi otak bayi. Untuk penelitian ini, Pagani dan rekan-rekannya mengumpulkan data sekitar 1.314 anak yang lahir di Quebec, Kanada, antara tahun 1997 dan 1998. Orangtua lalu melaporkan berapa jam seminggu anak-anak mereka menonton televisi saat memasuki usia 29 bulan dan pada umur 53 bulan. Para peneliti juga mengumpulkan data dari guru dan orangtua terkait prestasi akademis, psikososial dan tingkat kesehatan serta BMI anak-anak tersebut. Akhirnya diketahui bahwa pada usia 29 bulan, rata-rata anak menonton televisi rata-rata 8,82 jam seminggu. Pada usia 53 bulan, rata-ratanya lebih tinggi lagi yaitu 14,85 jam. Meskipun mungkin saja ada yang menonton lebih banyak waktunya daripada itu, catatan Pagani termasuk mencakup semuanya. ‘’Ini adalah rata-rata,’’ katanya. Pagani menyebut banyak anak yang menyaksikan televisi lebih lama daripada waktu rata-rata. Pada 29 bulan juga, 11 persen dari anak menonton lebih dari dua jam sehari. Sedangkan di saat usia 53 bulan, sekitar 23,4 persen dari anak-anak menonton lebih dari dua jam sehari. Padahal, rekomendasi yang berlaku di American Academy of Pediatrics menyarankan menonton televisi untuk anak di bawah umur dua tahun tidak lebih dari satu atau dua jam waktu menonton sebuah layar (baik komputer maupun televisi) setiap harinya. Kesimpulannya, menonton televisi terlalu lama memiliki efek yang tidak diinginkan bagi anak, bahkan setelah para peneliti menyesuaikan beberapa variabel penelitian yang mungkin juga berpengaruh seperti konfigurasi keluarga dan pendidikan ibu dan jumlah televisi di rumah mereka saat anak masih kelas 5 SD. ”Kami mempertimbangkan semua faktor yang menyertai penelitian,” kata Pagani. Setelah mempertimbangkan segala faktor yang memengaruhi dampak, efek negatif tersebut tetap terjadi. ”Pada dasarnya kami melihat anak-anak yang menonton televisi terlalu lama di usia 29 bulan lebih cenderung kurang produktif di kelas 5 SD sebagaimana juga dinilai oleh guru mereka,” jelasnya. ”Umumnya, mereka (anak yang terlalu lama menonton televisi) kurang baik dalam belajar matematikan. Kami juga melihat efek negatif dalam segala sesuatu yang membutuhkan latihan, seperti seberapa sering mereka melakukan itu dan apakah mereka suka melakukan sesuatu yang membutuhkan usaha. Mereka tergolong payah untuk itu. Dan BMI mereka lebih besar,” papar Pagani. Pagani melanjutkan, anak-anak yang terlalu banyak menonton televisi juga cenderung menjadi korban. Dia menemukan fakta bahwa hubungan sosial memerlukan praktek dan usaha. ”Anak-anak yang terlalu banyak mengonsumsi media, yang dikuatkan dalam hasil penelitian ini, cenderung terisolasi secara sosial,” terangnya. Anak yang tidak memiliki keterampilan sosial, ujar dia, dapat menjadi target empuk untuk digoda dan dihina teman-teman sekelasnya. Kesimpulan dari penelitian ini berarti, setiap jam menonton televisi tambahan pada usia 29 bulan (di atas rata-rata untuk tiap anak) menimbulkan berbagai efek negatif. Efek tersebut antara lain penurunan 7 persen keterlibatan di kelas, 6 persen penurunan dalam prestasi akademik khususnya matematika, 10 persen peningkatan menjadi target keisengan rekan-rekannya, 13 persen penurunan aktivitas fisik pada akhir pekan, 9 persen lebih tinggi asupan minuman ringan dan 5 persen peningkatan kemungkinan kelebihan berat badan yang dihitung oleh BMI.